Faktor Fisik Lingkungan dan Perilaku Merokok sebagai Prediktor Sick Building Syndrome Pada Pegawai di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur
DOI:
https://doi.org/10.32382/sulo.v26i1.2145Kata Kunci:
Kelembaban, Intensitas Cahaya, PM10, Sick Building Syndrome, Perilaku MerokokAbstrak
Sick Building Syndrome (SBS) merupakan kumpulan keluhan kesehatan yang muncul akibat paparan kualitas udara dalam ruangan yang buruk dan sering terjadi pada pekerja perkantoran. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kelembaban, intensitas cahaya, konsentrasi PM₁₀, dan perilaku merokok terhadap gejala SBS pada pegawai Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2025 menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pegawai sebanyak 128 orang dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran langsung menggunakan hygrometer, lux meter, dan particulate matter monitor, serta kuesioner terstruktur yang diadaptasi dari instrumen EPA BASE Study (US EPA, 1998) dengan hasil uji validitas dan reliabilitas yang memadai (Cronbach's alpha >0,7). Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Universitas Mulawarman. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan 52,3% responden mengalami gejala SBS. Konsentrasi PM₁₀ berpengaruh signifikan terhadap kejadian SBS (p = 0,029; OR = 3,263; 95% CI = 1,131–9,418), sedangkan kelembaban, intensitas cahaya, dan perilaku merokok tidak berpengaruh signifikan. Disimpulkan bahwa PM₁₀ merupakan faktor dominan yang memengaruhi kejadian SBS. Intervensi prioritas berupa pemasangan HEPA filter, program 5R K3, dan pembersihan intensif direkomendasikan untuk mengendalikan konsentrasi PM₁₀ di lingkungan kantor.
Referensi
Abd Razak, A., Saidin, H., Buralli, R., Cordoba, L., Tengku Ibrahim, T. N. B., & Nazli, S. N. (2025). Sick building syndrome and indoor air quality in Malaysian bank offices: A cross-sectional analysis. Dialogues in Health, 7. https://doi.org/10.1016/j.dialog.2025.100249
Arohman, A. W., Agustin, D., & Pratama, I. R. (2023). Implementasi Konsep 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) di Bengkel Fariz Jaya Motor. Journal of Community Services in Sustainability, 1(2), 95–102.
Aurora, W. I. D. (2021). Efek Indoor Air Pollution terhadap Kesehatan. Jurnal Kesehatan, 1(2), 32–39.
Dirgawati, M., Permadi, A., & Aurora, A. (2025). Konsentrasi PM₁, PM2,5 dan PM1 di Lingkungan Indoor Perumahan pada Area Urban: Kajian Literatur. Jurnal Teknik Lingkungan, X(4).
Findhiawati, M. F., Tiwi Yuniastuti, & Rudy Joegijantoro. (2022). Hubungan Kualitas Fisik Udara dan Bangunan dengan Gejala Sick Building Syndrome. Media Husada Journal Environmental Health, 1(2), 45–53.
Guntor. (2008). Gambaran Penelitian Sick Building Syndrome pada Pegawai di Gedung-gedung Jakarta dan Surabaya. Sehat Rakyat Jurnal Kesehatan Masyarakat, 2(1), 15–22.
Hamdhani, R., Riansyah, R., & Kemenkes, P. I. (2025). Hubungan Karakteristik Individu dengan Kejadian Sick Building Syndrome (SBS) Pada Anggota Di Unit Kerja X. Jurnal Kesehatan Kerja Indonesia, 3(1), 1–12.
Hanifah, S., Rahman, Z. F., Tualeka, A. R., & Rohim Tualeka, A. (2021). The Relationships of Temperature and Humidity in Air-Conditioned Room to the Occurrences of Sick Building Syndrome. Indian Journal of Forensic Medicine & Toxicology, 14(4), 221–228.
Hasmah, H., et al. (2024). Analisis Persebaran Intensitas Penerangan di Laboratorium K3 Samarinda. Jurnal Kesehatan Lingkungan Kalimantan, 5(2), 78–85.
Hikmah, N. (2022). Hubungan Konsentrasi PM₁₀dengan Keluhan Pernapasan pada Pekerja Perkantoran. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 17(3), 112–120.
Imitiyaz, A. (2025). Kondisi Fisik Udara sebagai Prediktor Sick Building Syndrome di Gedung Perkantoran. Jurnal Lingkungan dan Kesehatan, 8(1), 33–41.
Izharulhaq, R. A., Fauzi, R. P., & Mulyani, S. (2024). Hubungan Suhu dan Kelembaban Udara dan Intensitas Pencahayaan Dengan Sick Building Syndrome di SMA Negeri 3 Surakarta. Journal of Applied Agriculture, Health, and Technology, 3(1), 1–9.
Jusuf, H., Rofia Nurfadillah, A., et al. (2025). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keluhan Sick Building Syndrome pada Pegawai Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gorontalo. Jurnal Kolaboratif Sains, 8(2), 1112–1120.
Kindangen, J. I. (2024). Kualitas Udara Dalam Ruangan Untuk Kenyamanan dan Kesehatan Penghuni. Penerbit Universitas Sam Ratulangi.
Laila, N. N. (2023). Kualitas Udara dalam Ruang Berdasarkan Faktor Fisik dan Kimia Di Perpustakaan Universitas Indonesia Maju. Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health, 7(2), 185–197.
Mansor, A. A., Samsuri Abdullah, Ami Nursyahirah Ahmad, & Ali Najah Ahmed. (2024). Indoor air quality and sick building syndrome symptoms in administrative office at public university. Dialogues in Health, 6, 100189.
Mawarni, F. M., Lestari, M., Windusari, Y., Andarini, D., Camelia, A., Nandini, R. F., & Fujianti, P. (2021). Keluhan Sick Building Syndrome di Gedung PT. X. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 20(1), 39–46.
Natsir, A., & Sainah, S. (2025). Pengaruh Kualitas Fisik Udara terhadap Kejadian Sick Building Syndrome pada Pegawai Gedung Menara UMI Makassar. Sehat Rakyat: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 4(1), 13–23.
Okta, D. D. R. G., Anugrah, I., Fahruddini, R. E., et al. (2025). Analisis Pencahayaan terhadap Produktivitas Karyawan Di PT. XYZ Batam Indonesia. Jurnal Logistics, 3(2), 44–52.
Permenkes No. 48. (2016). Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perkantoran. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Putra, D. D. (2019). Hubungan Suhu, Kelembaban, PM₁, Status Merokok, dan Faktor Pekerjaan dengan Munculnya Gejala Sick Building Syndrome pada Pegawai di Gedung Rektorat Universitas Mulawarman Samarinda. [Skripsi]. Universitas Mulawarman.
Rahmawati, C., et al. (2021). Global Indoor Air Quality and Sick Building Syndrome: A Systematic Review. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(5), 2345.
Rozi, C., Joko, T., & Nurjazuli, N. (2025). Faktor risiko kesehatan lingkungan yang berpengaruh terhadap kejadian sick building syndrome pada pegawai di gedung perkantoran. Holistik Jurnal Kesehatan, 19(3), 586–595.
Tri, I., Bhakti, W., & Mindiharto, S. (2025). Hubungan Faktor-Faktor Individu Dengan Kejadian Sick Building Syndrome (SBS). Journal Health & Science: Gorontalo Journal Health and Science Community, 9(1), 22–30.
Ulfa, V. A., Asnifatima, A., & Fathimah, A. (2022). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Sick Building Syndrome (SBS) pada Karyawan RSIA Pasutri Bogor Tahun 2020. Promotor, 5(5), 428–434.
US EPA. (1998). Building Assessment Survey and Evaluation (BASE) Study: Indoor Air Questionnaire. U.S. Environmental Protection Agency.
Widuri, S. R., & Ardi, S. Z. (2022). Correlation Between Temperature and Humidity with Sick Building Syndrome Complaint on Employees at Campus 4 Ahmad Dahlan University Yogyakarta. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 14(2), 88–95.
Wulandari, Y. (2024). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Keluhan Sick Building Syndrome Pegawai Puskesmas Paal Merah II Tahun 2024. [Skripsi]. Universitas Jambi.
Yulianti, D., & Wiyono, H. (2021). Sick Building Syndrome. Penerbit Kesehatan.
















