Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat <p><strong>Media Keperawatan</strong> : Politeknik Kesehatan Makassar. <a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/1530505494" target="_blank" rel="noopener">E-ISSN 2622-0148</a>, <a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/1395973308" target="_blank" rel="noopener">P-ISSN 2087-0035</a>. Kebutuhan publikasi aspirasi ilmiah dari kalangan penggiat kesehatan khususnya Dosen dalam hal ini dosen untuk Keperawatan semakin meningkat, oleh karena itu Jurnal Media Keperawatan muncul sebagai salah satu sarana untuk publikasi segala bentuk ide, hasil penelitian serta kajian ilmiah yang berhubungan dengan pengembangan Keperawatan dan kesehatan pada umumnya. Jurnal Media Keperawatan diterbitkan oleh Jurusan Keperawatan Poltekkes Makassar dengan periode terbit 2 kali dalam setahun, yaitu terbit di bulan Juni dan Desember.</p> id-ID yulianto@poltekkes-mks.ac.id (Yulianto M) heriansyahabdulhamid@poltekkes-mks.ac.id (Heriansyah) Mon, 01 Dec 2025 12:28:33 +0800 OJS 3.3.0.13 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 PENGGUNAAN VIDIO UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPAUAN MELAKUKAN SENAM PADA PENDERITA DIABETIK DI PUSKESMAS MINASA UPA KOTA MAKASSAR https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1914 <p>Salah satu&nbsp; komplikasi serius pada penderita diabates melitus&nbsp; adalah neuropati perifer. hal ini dapat&nbsp;&nbsp; berdampak pada ulkus diabetikum dan amputasi bila tidak dilakukan pearwatan dengan baik . Salah satu upaya pencegahan komplikasi adalah dengan&nbsp; senam kaki diabetik. Untuk meningkat kemampuan penderti&nbsp; melakukan&nbsp; senam diabetik maka Media video dipandang sebagai sarana edukasi efektif karena mampu memberikan panduan visual dan auditori secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan penderita diabetes melitus dalam melakukan senam kaki setelah diberikan edukasi melalui media video di Puskesmas Minasa Upa Kota Makassar. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan lima informan berusia di atas 60 tahun. Data dikumpulkan melalui observasi sembilan indikator gerakan senam kaki sebelum dan sesudah intervensi, serta wawancara mendalam untuk mengeksplorasi pengalaman dan persepsi informan terhadap media video. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan yang signifikan dari sebelum menggunakan vidio&nbsp; (28,6%) dan meningkat&nbsp; &nbsp;menjadi 93% setelah menonton video sebanyak tiga kali. Hasil penilaian responden bahwa &nbsp;video mudah diikuti, jelas secara visual dan audio, serta membantu memahami gerakan yang sebelumnya belum diketahui. Disarankan untuk vidio perlu ada penjelesan&nbsp; tentang manfaat setiap gerakan agar lebih komprehensif. Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa bahwa media video efektif meningkatkan kemampuan senam kaki pada penderita diabetes melitus, sehingga dapat dijadikan alternatif edukasi praktis di layanan kesehatan primer.</p> Harliani Harliani, Sulfa Maryam Hak Cipta (c) 2025 Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1914 Sun, 07 Dec 2025 00:00:00 +0800 HUBUNGAN REWARD OF CAREGIVING SCALE DENGAN KEMANDIRIAN KELUARGA DALAM PERAWATAN JANGKA PANJANG PADA LANSIA https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1595 <p>Seiring dengan bertambahnya populasi lansia, isu-isu yang berkaitan dengan kesehatan dan ketergantungan dalam kehidupan sehari-hari menjadi semakin umum. Dalam kondisi seperti itu, keluarga bertindak sebagai sistem pendukung utama, mengambil tanggung jawab pengasuhan yang berkelanjutan. Namun, menjadi pengasuh mandiri bukan berarti tanpa tantangan. Keluarga sering mengalami stres emosional, kelelahan fisik, dan tekanan keuangan. Terlepas dari kesulitan-kesulitan ini, rasa penghargaan atau kepuasan pribadi yang diperoleh dari pengasuhan dapat menjadi sumber kekuatan dan motivasi yang sangat penting, penelitian ini mengeksplorasi korelasi antara penghargaan yang dirasakan oleh pengasuh dan tingkat kemandirian keluarga dalam merawat anggota keluarga yang berusia lanjut. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif cross-sectional, data dikumpulkan dari enam puluh satu pengasuh yang tinggal bersama anggota keluarga lansia di wilayah Malang antara Januari dan Mei 2025. Partisipan dipilih melalui pengambilan sampel secara tidak sengaja. Instrumen penelitian meliputi skala persepsi penghargaan pengasuhan dan kuesioner kemandirian keluarga. Analisis korelasi Spearman dilakukan dengan ambang batas signifikansi 0,05. Temuan menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan secara statistik antara persepsi penghargaan dan kemandirian keluarga (r = 0,287; p = 0,025). Hal ini menunjukkan bahwa pengasuh yang merasakan lebih banyak penghargaan pribadi dari peran mereka cenderung menumbuhkan kemandirian yang lebih besar dalam unit keluarga ketika memberikan perawatan lansia. Hasil ini menekankan pentingnya mempromosikan pengalaman emosional yang positif.</p> Berlyan Surya Prata Putra Siswoyo, Nur Melizza, Suyesti Yossi , Nadin Budiarti, Brillian Yunita Adiratna, Roby Putra Hermanto Hak Cipta (c) 2025 Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1595 Mon, 29 Dec 2025 00:00:00 +0800 PEMANFAATAN VIDEO ANIMASI EDUKASI UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN ORANG TUA TENTANG PENTINGNYA PENCEGAHAN TUBERKULOSIS PADA ANAK DI PUSKESMAS BONTOKASSI KAB. TAKALAR https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1832 <p>Latar Belakang : Tuberkulosis (TBC) adalah salah satu penyakit yang dapat disembuhkan maupun dicegah, tetapi anak-anak <br>dan remaja berisiko terkena penyakit TBC dan dapat berdampak pada perkembangan dan kehidupannya. 11% merupakan jumlah <br>anak-anak dan remaja yang berusia kurang dari 15 tahun menderita penyakit TBC di dunia. Tujuan : Tujuan penelitian yaitu untuk <br>meningkatkan kesadaran orang tua tentang pentingnya pencegahan tuberculosis pada anak di Puskesmas Bontokassi Kab. <br>Takalar. Metode : Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskripsi naratif melalui wawancara mendalam kepada <br>responden. Analisis data dilakukan secara tematik, yaitu dengan mengidentifikasi, mengelompokkan, dan menafsirkan tema-tema <br>utama yang muncul dari hasil wawancara. Hasil : Setelah dilakukan penelitian melalui wawancara mendalam terhadap responden, <br>para responden sebelum menonton video animasi edukasi memiliki pemahaman terbatas tentang pencegahan tuberkulosis pada <br>anak yang memiliki kontak dengan pasien TBC. Setelah menonton video animasi edukasi, para responden telah mengetahui dan <br>kesadaran meningkat tentang pentingnya pencegahan tuberckulosis pada anak dan bersedia untuk melakukan TPT. Kesimpulan <br>: Video animasi edukasi terbukti efektif dan berhasil meningkatkan pemahaman dan kesadaran orang tua tentang pentingnya <br>pencegahan Tuberkulosis melalui pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) pada anak. <br>Kata kunci : Tuberkulosis, TPT, Video animasi Edukasi</p> Hartati, S. Pd, S. Kep, Ns, M. Ked, Yulianto M, Abd Hady, Simunati Hak Cipta (c) 2025 Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1832 Sun, 07 Dec 2025 00:00:00 +0800 GAMBARAN PENGETAHUAN PERAWAT IGD TENTANG CODE BLUE SYSTEM DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT (BBKPM) MAKASSAR https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1928 <p><strong><em>Background:</em></strong><em> Code Blue is a universal emergency management system designed to handle critical medical cases requiring immediate intervention, particularly </em>cardiac<em> arrest. This system was first implemented at Bethany Medical Center, Kansas, USA, and remains the only color code used globally for identical emergencies. In Indonesia, the general use of Code Blue was established in 2008 in alignment with healthcare service quality standards.</em></p> <p><strong><em>Objective:</em></strong><em> This study aims to identify the level of nurses' knowledge regarding the Code Blue System in the Emergency Room (IGD) of the Lung Health Center (BBKPM) in Makassar.</em></p> <p><em>Methods: This study utilized a quantitative approach with a simple descriptive design. The sampling technique employed was total sampling, involving the entire population of nurses in the unit.</em></p> <p><em>Results: The results illustrate the nurses' knowledge regarding the Code Blue System at BBKPM Makassar. The data indicates that the knowledge level of nurses in the Emergency Room falls into the good category.</em></p> <p><em>Conclusion: It can be concluded that nurses in the BBKPM Emergency Room possess a good level of knowledge regarding the Code Blue System. However, the consistent implementation of this system within the hospital environment remains crucial to improving service quality and fostering a sense of safety for patients, especially in cardiac arrest cases. It is recommended that future researchers conduct more in-depth studies on this topic.</em></p> <p><em> </em></p> <p><em>Keywords: Code Blue System, Knowledge Level, Nurses, Emergency Room, Emergency Care</em></p> Mardiana Mustafa, Heriansyah Heriansyah, Dyah Ekowatiningsih, Rauf Harmiady, Yulianto M Hak Cipta (c) 2025 Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1928 Fri, 05 Dec 2025 00:00:00 +0800 IMPLEMENTASI PROGRAM BERMAIN PUZZLE PADA PENURUNAN KECEMASAN AKIBAT HOSPITALISASI YANG TERJADI PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DI RSUD LABUANG BAJI MAKASSAR https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1632 <p>Hospitalisasi yaitu dimana anak mengharuskan untuk tinggal di rumah sakit dan menjalani perawatan hingga pulih. Proses ini merupakan suatu hal yang tidak menyenangkan bagi anak dimana anak akan merasakan berbagai macam yang membuat trauma tersendiri yang bisa menimbulkan kecemasan. Kecemasan pada anak selama hospitalisasi dapat terlihat dalam perilaku apakah anak terlihat menangis atau bahkan penolakan terhadap perawatan medis. Bermain adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan anak, terutama ketika mereka mengalami situasi stres seperti hospitalisasi. Program&nbsp; bermain memang dikenal sebagai metode yang efektif dalam membantu anak-anak mengatasi masalah emosional dan perilaku mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran program bermain puzzle pada penurunan kecemasan akibat hospitalisasi yang terjadi pada anak usia prasekolah. Metode penelitian ini ialah studi kasus deskriptif. Jenis penelitian yang akan dilakukan ialah penelitian kualitatif. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 21 Mei 2024 di RSUD Labuang Baji. Terdapat 2 subyek pada penelitian ini yaitu subyek I (An.A) dan subyek II (An.M). Data yang diperoleh didapatkan dari hasil wawancara dan observasi hasil penelitian yang diperoleh yaitu dari kedua subyek penelitian terdapat perubahan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan implementasi program bermain puzzle pada penurunan kecemasan akibat hospitalisasi pada anak usia prasekolah, sebelum dilakukan implementasi program bermain puzzle kedua subyek penelitian berada dalam kategori tingkat kecemasan ringan tepatnya pada An.A dengan total skor kecemasan 29 dan An.M total skor tingkat kecemasan 21 dengan menggunakan tingkat kecemasan HARS. Sedangkan sesudah dilakukan implementasi program bermain puzzle kedua subyek penelitian berada dalam&nbsp; kategori tidak ada kecemasan</p> Ruslan Hasani, Rapiqa Sri Wahyuni, Simunati, Rahman, Junaidi Hak Cipta (c) 2025 Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1632 Sat, 06 Dec 2025 00:00:00 +0800 ANALISIS SUPRESI VIRAL LOAD DARAH PENGIDAP HIV DI KOTA PALOPO https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/897 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan supresi viral load pada pengidap HIV di Kota Palopo. Penelitian ini menggunakan design cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pengidap HIV yang telah mendapatkan terapi ARV minimal 6 bulan dan telah menjalani pemeriksaan viral load pada tahun 2023. Pengambilan sampel dengan teknik stratified random sampling pada 3 puskesmas dengan jumlah pasien HIV tertinggi di Kota Palopo. Analisis data menggunakan uji statistik Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat korelasi antara kepatuhan pengobatan ARV dengan hasil viral load darah pengidap HIV dengan kekuatan korelasi yang cukup dan searah (nilai signifikansi 0,005&lt;0,05 dan nilai correlation&nbsp; coefficient sebesar 0,365). Terdapat korelasi antara riwayat LTFU dengan hasil viral load darah pengidap HIV dengan kekuatan korelasi kuat dan searah (nilai signifikansi 0,000&lt;0,05 dan nilai correlation&nbsp; coefficient sebesar 0,578). Terdapat korelasi antara perilaku berisiko dengan hasil viral load darah pengidap HIV dengan korelasi yang cukup dan searah (nilai signifikansi 0,015&lt; 0,05 dan nilai correlation&nbsp; coefficient sebesar 0,317). Tidak terdapat korelasi antara riwayat komorbiditas dengan hasil viral load darah pengidap HIV (nilai signifikansi 0,755&gt;0,05 dan nilai correlation&nbsp; coefficient adalah sebesar 0,042 korelasi sangat lemah).</p> Nurhasanah, Arlin Adam, Sudirman Sainuddin, Zamli Hak Cipta (c) 2025 Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/897 Tue, 30 Dec 2025 00:00:00 +0800 BUKU SAKU SELF-CARE SEBAGAI MEDIA EDUKASI BAGI IBU DALAM PENERAPAN METODE KANGURU PADA BAYI PREMATUR https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1763 <p>Prematuritas merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi, dan kurangnya pengetahuan ibu mengenai perawatan bayi prematur sering menimbulkan kecemasan serta kesulitan dalam perawatan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pengalaman ibu dalam menerapkan metode kanguru serta menilai manfaat buku saku self-care sebagai media edukasi. Penelitian menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan tiga informan ibu yang memiliki bayi prematur di RSIA Sitti Khadijah 1 Muhammadiyah Makassar, dipilih melalui teknik convenience sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa ibu mengalami kecemasan pada awal kelahiran bayi, namun setelah menerapkan metode kanguru, ibu merasakan peningkatan kepercayaan diri, ikatan emosional, dan perbaikan kondisi bayi seperti kestabilan suhu dan ketenangan. Tenaga kesehatan memberikan dukungan penting melalui edukasi dan pendampingan. Buku saku self-care dinilai membantu ibu memahami langkah perawatan secara praktis dan mudah diikuti. Penelitian menyimpulkan bahwa metode kanguru memberikan manfaat fisik dan psikologis bagi bayi dan ibu, sementara buku saku self-care efektif sebagai media edukasi pendukung di rumah</p> sitti rahmatia, Suhartatik, Kurnia Rahma Syarif, Naharia Laubo, Muh. Basri, Sitti Safira Al Haya Hak Cipta (c) 2025 Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1763 Sun, 07 Dec 2025 00:00:00 +0800 PENGETAHUAN PERAWAT PADA PENERAPAN EARLY WARNING SYSTEM (EWS) DALAM PENILAIAN AWAL PERAWATAN KRITIS https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1743 <p><em>Early Warning Score </em>(EWS) dikembangkan untuk pendeteksian dini pasien yang mengalami perburukan kondisi dengan menilai dan menganalisis tanda-tanda vital dalam parameter fisiologis sesuai hasil skoring. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran pengetahuan perawat pada penerapan <em>early warning score </em>(EWS) dalam penilaian awal perawatan kritis di RSUD Luwuk Kabupaten Banggai. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei. Penelitian ini menggunakan analisis univariat berupa usia, tingkat pengetahuan, dan klasifikasi pendidikan dan analisis bivariat berupa tingkat pengetahuan perawat terhadap penerapan EWS. Tehnik pengumpulan data dengan menggunakan instrument kuesioner pada 170 responden. Hasil analisis ditemukan bahwa sebagian besar responden mencapai nilai 80 – 100 yang artinya memiliki pengetahuan baik sebanyak n = 104 (61,2%) dan terdapat n = 51 (30%) responden yang memiliki pengetahuan cukup dengan capaian nilai 61 – 79, sedangkan responden yang memiliki pengetahuan kurang dengan capaian nilai &lt; 59 sebanyak n = 15 (8,8%). Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar perawat memiliki tingkat pengetahuan yang baik terhadap penilaian <em>Early Warning Score </em>(EWS) dalam kegawatan pasien kritis</p> Sri Musriniawati Hasan, Hana Yulianti Muhammad, Eka Sulistiawati Riyanto, Ike Nurjana Tamrin Hak Cipta (c) 2025 Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1743 Tue, 30 Dec 2025 00:00:00 +0800 IMPLIKASI TEMUAN TOXOPLASMA GONDII PADA PEMELIHARA KUCING LOKAL TERHADAP PERAN PERAWAT DALAM PENCEGAHAN ZOONOSIS DI MASYARAKAT https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1760 <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p><strong><em>Background:</em></strong> Toxoplasmosis is a zoonotic disease caused by <em>Toxoplasma gondii</em>, with cats (<em>Felis catus</em>) serving as the definitive host. The parasite spreads through millions of oocysts shed in feline feces, which can survive in the environment for weeks. In Indonesia, the prevalence of toxoplasmosis remains high, especially in Makassar, where human seropositivity reaches 60%. Despite this, awareness of toxoplasmosis remains low, even though the infection can cause serious complications such as congenital toxoplasmosis, miscarriage, and encephalitis. <strong><em>Methods:</em></strong> This study used a descriptive observational design with secondary data from PCR testing for <em>Toxoplasma gondii</em> in blood samples of local cat owners in Antang Raya, Makassar. Characteristics assessed included age, gender, number of cats owned, duration of ownership, and hygiene practices. <strong><em>Results:</em></strong> The findings showed that 38.5% of respondents tested positive for <em>Toxoplasma gondii</em>, with the highest exposure occurring in the productive age group (16–30 years). The study also found that infection occurred regardless of routine hygiene practices, highlighting that animal hygiene alone is insufficient to prevent transmission. <strong><em>Conclusion:</em></strong>These results emphasize the strategic role of nurses in zoonotic disease prevention, particularly through community-based health education, early detection, environmental sanitation promotion, and reproductive health advocacy. Strengthening the role of nurses in preventive efforts is essential to reduce the risk of toxoplasmosis transmission and its impact on public health, especially among women of reproductive age.</p> <p><strong>Keywords:</strong> <em>Toxoplasma gondii</em>, zoonosis, cat owners, nursing, prevention</p> <p><strong> </strong><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar Belakang</strong>: Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan oleh parasit Toxoplasma gondii dan sering kali tidak disadari masyarakat karena gejalanya bersifat asimptomatik. Kucing lokal (Felis catus) sebagai hospes definitif memiliki peran besar dalam penyebaran ookista yang dapat mencemari lingkungan. Prevalensi toxoplasmosis di Indonesia tergolong tinggi, termasuk di Makassar yang mencapai 60%. Infeksi ini berpotensi berdampak serius terhadap kesehatan reproduksi, kehamilan, serta meningkatkan risiko gangguan sistem saraf, sehingga diperlukan upaya pencegahan berbasis keperawatan komunitas. <strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional berdasarkan data sekunder hasil deteksi Toxoplasma gondii menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) pada darah pemelihara kucing lokal di Kecamatan Manggala, Makassar. Karakteristik responden meliputi usia, jenis kelamin, jumlah dan lama memelihara kucing, serta kebiasaan perawatan hewan. <strong>Hasil:</strong> Sebanyak 38,5% responden terdeteksi positif Toxoplasma gondii, dengan kelompok usia produktif (16–30 tahun) menunjukkan proporsi paparan tertinggi. Ditemukan bahwa infeksi tetap terjadi meskipun sebagian partisipan rutin menjaga kebersihan hewan, yang menunjukkan perlunya upaya pencegahan lebih menyeluruh. <strong>Kesimpulan</strong>: Tingginya angka infeksi Toxoplasma gondii pada pemelihara kucing lokal menunjukkan pentingnya intervensi pencegahan berbasis keperawatan. Perawat berperan strategis sebagai penyuluh kesehatan, fasilitator deteksi dini, promotor sanitasi lingkungan, dan advokat kesehatan reproduksi guna menekan penyebaran zoonosis di masyarakat.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> Toxoplasma gondii, zoonosis, pemelihara kucing, peran perawat, pencegahan</p> Nur Laela Alyidrus, Andi Aridhasari Sudirman, Andi Sudirman, Rugayyah Alyidrus, Ambo Dalle Hak Cipta (c) 2025 Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1760 Mon, 01 Dec 2025 00:00:00 +0800 KEPATUHAN KONSUMSI TABLET TAMBAH DARAH PADA REMAJA PUTRI DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) TELKOM MAKASSAR https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1907 <p>Remaja putri menjadi kelompok yang paling rentan mengalami anemia akibat kebutuhan zat besi yang meningkat selama masa pertumbuhan dan menstruasi. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah ini dengan program suplementasi Tablet tambah darah yang diberikan secara rutin di sekolah-sekolah. Namun, tingkat kepatuhan konsumsi Tablet tambah dara di kalangan remaja masih menjadi tantangan yang perlu dievaluasi lebih lanjut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepatuhan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan deskriptif design. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Telkom Makassar dengan jumlah sampel sebanyak 44 orang siswi yang diambil menggunakan teknik random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 44 remaja putri, sebanyak 63,6% patuh dan 36,4% tidak patuh dalam mengonsumsi tablet tambah darah. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsi tablet tambah darah di SMP Telkom Makassar tergolong cukup baik, karena lebih dari separuh responden telah mengonsumsi tablet darah secara teratur sesuai dengan ketentuan (3-5 kalimat). Kepatuhan konsumsi tablet tambah darah dipengaruhi oleh pengetahuan, efek samping, serta pengawasan dari sekolah dan tenaga kesehatan. Semakin baik pemahaman tentang manfaat tablet tambah darah, maka semakin tinggi pula tingkat kepatuhan</p> Hastuti Husain, Subriah, Melisa Hak Cipta (c) 2025 Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1907 Mon, 01 Dec 2025 00:00:00 +0800 ANALISIS PERBEDAAN KEPUASAN MAHASISWA MENGGUNAKAN MEDIA VIDEO ANIMASI DALAM PEMBELAJARAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1716 <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background: </em></strong><em>Nursing triage education in Indonesia still faces challenges, particularly related to students’ knowledge and satisfaction with the learning process. Less effective learning media, such as PowerPoint, which tends to be static, may affect student engagement and learning outcomes. An innovative alternative is the use of animated video, which provides a more visual, interactive, and engaging learning experience. This study aimed to compare the effectiveness of PowerPoint and animated video on students’ satisfaction in triage nursing education.<strong> Methods: </strong>This study employed a quasi-experimental design with a pretest-posttest control group approach. The subjects were 36 fifth-semester students of the Diploma in Nursing Program at Poltekkes Kemenkes Makassar, divided into two groups: 18 students in the control group (PowerPoint) and 18 students in the experimental group (animated video). Data were collected using a satisfaction questionnaire before and after the intervention, and analyzed using paired sample t-test and independent sample t-test with a significance level of α = 0.05. <strong>Results: </strong>The findings showed that student satisfaction in the PowerPoint group increased from a mean of 71.06 ± 4.24 to 71.28 ± 4.32 (p = 0.042). In the animated video group, a greater increase was observed from 71.94 ± 6.88 to 79.38 ± 7.91 (p = 0.018). The comparison of mean differences between groups indicated a significant difference, with the PowerPoint group increasing by only 0.22 ± 0.43, while the animated video group increased by 8.33 ± 7.79 (p = 0.000). <strong>Conclusion</strong>: Animated video is more effective than PowerPoint in enhancing students’ satisfaction with triage nursing education. It is recommended that nursing education institutions integrate animated videos as innovative learning media to create a more interactive, engaging, and effective learning process.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: Triage Animated video; PowerPoint; Student satisfaction; Emergency nursing education</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Pendahuluan</strong>: Pendidikan triase keperawatan di Indonesia masih menghadapi tantangan, terutama terkait pengetahuan dan kepuasan mahasiswa terhadap proses pembelajaran. Media pembelajaran yang kurang efektif, seperti PowerPoint yang cenderung statis, dapat memengaruhi keterlibatan mahasiswa dan hasil belajar. Salah satu alternatif inovatif adalah penggunaan video animasi yang menawarkan pengalaman belajar lebih visual, interaktif, dan menarik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas media PowerPoint dan video animasi terhadap kepuasan mahasiswa dalam pembelajaran triase keperawatan. <strong>Metode</strong>: Penelitian menggunakan desain quasi-eksperimen dengan pendekatan <em>pretest-posttest with control group</em>. Subjek penelitian adalah 36 mahasiswa semester 5 Program Studi D3 Keperawatan Poltekkes Kemenkes Makassar, yang dibagi menjadi dua kelompok: 18 mahasiswa kelompok kontrol (PowerPoint) dan 18 mahasiswa kelompok eksperimen (video animasi). Data dikumpulkan melalui kuesioner kepuasan sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan <em>paired sample t-test</em> dan <em>independent sample t-test</em> dengan taraf signifikansi α = 0,05. <strong>Hasil:</strong> Penelitian menunjukkan bahwa kepuasan mahasiswa pada kelompok PowerPoint meningkat dari rata-rata 71,06 ± 4,24 menjadi 71,28 ± 4,32 (p = 0,042). Pada kelompok video animasi, peningkatan lebih besar terjadi dari 71,94 ± 6,88 menjadi 79,38 ± 7,91 (p = 0,018). Perbandingan selisih rata-rata kepuasan antar kelompok menunjukkan perbedaan signifikan, di mana kelompok PowerPoint hanya meningkat 0,22 ± 0,43, sedangkan video animasi meningkat 8,33 ± 7,79 (p = 0,000). <strong>Kesimpulan</strong>: video animasi lebih efektif dibandingkan PowerPoint dalam meningkatkan kepuasan mahasiswa terhadap pembelajaran triase keperawatan. Disarankan agar institusi pendidikan keperawatan mengintegrasikan video animasi sebagai media pembelajaran inovatif untuk menciptakan proses belajar yang lebih interaktif, menarik, dan efektif.</p> <p><strong>Kata kunci</strong> : Video animasi; PowerPoint; Kepuasan Mahasiswa; Pembelajaran keperawatan gawat darurat</p> Andi Sudirman, Andi Aridhasari Sudirman, Nasrullah, Sukma Saini, Firda Dwi Anugrah, Agusti Fauziah Hak Cipta (c) 2025 Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1716 Mon, 01 Dec 2025 00:00:00 +0800 PENERAPAN JUS MENTIMUN PADA LANSIA DENGAN MASALAH KEPERAWATAN RESIKO PERFUSI SELEBRAL TIDAK EFEKTIF https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1699 <p><strong>Latar Belakang</strong>: Penyakit tidak menular (PTM) merupakan tantangan dalam dunia Kesehatan, secara global PTM menjadi penyebab kematian nomor 1 setiap tahunnya yaitu penyakit kardiovaskuler. Penyakit kardiovaskuler adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah, seperti penyakit jantung coroner, penyakit gagal jantung, stroke dan hipertensi. Masalah utama yang sering terjadi pada pasien penderita hipertensi yaitu risiko perfusi serebral tidak efektif. Risiko perfusi serebral tidak efektif disebabkan oleh kerusakan vaskuler pada seluruh pembuluh perifer. Perubahan arteri kecil atau arteriola menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, yang mengakibatkan aliran darah akan terganggu. <strong>Tujuan Penelitian: </strong>Menganalisis asuhan keperawatan penerapan jus mentimun pada pasien dengan masalah keperawatan resiko perfusi selebral tidak efektif <strong>Metode</strong>: Metode penelitian adalah deskriptif dalam bentuk studi kasus. Peneliti ini melibatkan dua keluarga dengan masalah keperawatan resiko perfusi selebral tidak efektif. <strong>Hasil: </strong>Hasil evaluasi keperawatan menunjukan bahwa pemberian jus mentimun selama 3 kali pertemuan dengan pemberian 1 kali sehari didapatkan tekanan darah sistolik dan diastolik pasien mengalami penurunan pada Ny. S dari 170/95 mmhg menjadi 140/70 mmhg dan Ny. D dari 150/ 78 mmhg menjadi 130/80 mmhg. <strong>Kesimpulan: </strong>Penerapan jus mentimun dapat mengatasi masalah keperawatan resiko perfusi selebral pada pasien hipertensi.</p> Arita Murwani, Riza Yulina Amry, Rahmawati Hak Cipta (c) 2025 Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medperawat/article/view/1699 Mon, 01 Dec 2025 00:00:00 +0800